Tiga Puluh Jam di Tepian Sungai: Jejak Terakhir Rahmadani di Bawah Jembatan Kuok”
Jumat, 15-05-2026 - 23:55:42 WIB
Kuok, Kabupaten Kampar
Pada hari-hari biasa, Sungai Kampar di bawah Jembatan Kuok hanya menjadi latar belakang kehidupan warga. Airnya mengalir tanpa terganggu, membawa ranting dan dedaunan dari hulu, ditonton burung bangau yang sesekali bertengger di bebatuan. Namun pada Kamis sore, 14 Mei 2026, aliran sungai itu berubah menjadi pusat perhatian seluruh desa. Bukan karena sesuatu yang meriah, tetapi karena sebuah kabar yang memicu gelombang kecemasan: seorang anak hilang terseret arus.
Anak itu bernama Rahmadani, usia 13 tahun, siswa sekolah menengah dari Desa Lereng. Sore itu, ia dan beberapa rekannya bermain di sekitar area jembatan — sebuah kebiasaan yang tidak jarang dilakukan anak-anak setempat. Namun tidak ada yang pernah mengira bahwa rutinitas biasa itu akan berakhir dengan hilangnya nyawa.
Sore yang Tidak Sama Lagi
Ketika kabar pertama terdengar, warga yang sedang beraktivitas langsung menghentikan pekerjaannya. Beberapa orang turun dari motor, sebagian meninggalkan warung tempat mereka duduk, dan ada juga yang berlari menuju sisi jembatan. Dalam hitungan menit, tempat yang biasanya sepi dan hanya dilalui kendaraan mendadak menjadi titik keramaian yang tidak direncanakan.
Langit mulai redup ketika orang pertama melapor: seorang anak terlihat terseret arus setelah terpeleset di dekat tiang jembatan. Tidak ada yang melihat dengan jelas bagaimana Rahmadani bisa kehilangan keseimbangan, tetapi semua sepakat waktu itu arus sedang kuat.
Warga yang pertama tiba mencoba mencari menggunakan senter, menyisir tepian sungai yang dangkal. Namun setelah tidak ada tanda-tanda keberadaan korban, mereka menghubungi BPBD Kampar.
Respons Cepat: Tim Gabungan Bergerak
Tak lama setelah laporan masuk, personel BPBD Kampar tiba di lokasi. Lampu blink perahu SAR mulai menyala, menyobek kegelapan yang turun. Suara mesin perahu memecah kesunyian setelah magrib.
“Kita mulai penyisiran pada radius 500 meter dulu. Perlebar kalau belum terlihat,” instruksi salah satu anggota tim saat koordinasi.
Perahu bergerak maju menyisir permukaan air yang gelap, membawa harapan namun juga kecemasan. Di tepi sungai, warga berkerumun mengikuti pergerakan lampu-lampu itu, sementara sebagian lainnya duduk menunggu kabar sambil memegang telepon genggam — mengabarkan perkembangan kepada keluarga lain di kampung.
Malam pertama pencarian tidak membuahkan hasil. Namun tim SAR memastikan operasi dilanjutkan keesokan paginya.
Hari Kedua: Matahari Terbit, Pencarian Diperluas
Jumat pagi, Jembatan Kuok kembali dipadati warga. Selain tim SAR resmi, puluhan warga turut membantu dengan perahu kayu milik masing-masing. Mereka membentuk barisan penyisiran dari titik awal hingga ke area yang lebih jauh.
Tim Basarnas menurunkan penyelam. Meski arus cukup kuat, penyelaman dilakukan di titik-titik yang dianggap memungkinkan tubuh tersangkut. Sementara itu, beberapa perahu kecil menyisir sisi sungai yang lebih dangkal, memeriksa sela-sela pohon tumbang dan bebatuan besar.
“Dengan arus seperti ini, kemungkinan korban hanyut beberapa kilometer cukup besar,” ujar salah satu petugas di lapangan.
Pencarian meluas hingga ke Desa Persiapan Pulau Belimbing, sekitar tiga kilometer dari lokasi awal. Meski kelelahan mulai terlihat, tim tidak menghentikan usaha.
Menjelang Malam: Titik Temuan Muncul
Hampir 30 jam sejak kejadian, saat sebagian tim mulai mempertimbangkan penutupan pencarian hari kedua, kabar masuk melalui warga setempat. Ada benda mencurigakan mengambang di tengah sungai di wilayah Pulau Belimbing.
Warga yang melihat dari jauh segera melapor. Tim penyelamat langsung mengarahkan perahu menuju lokasi yang dimaksud.
Lampu sorot diarahkan, dan semua mata tertuju ke arah satu titik. Keheningan menghampiri, seolah sungai pun ikut menahan suara.
Beberapa menit kemudian, kepastian itu tiba: benda yang mengambang itu adalah tubuh Rahmadani.
Evakuasi dan Pemeriksaan
Setelah diangkat dengan hati-hati, jasad Rahmadani dibawa menggunakan perahu menuju daratan. Tim setempat langsung menghubungi keluarga.
“Korban akan dibawa ke Puskesmas Kuok untuk pembersihan dan pemeriksaan awal,” ujar petugas Pusdalops BPBD Kampar.
Sesampainya di Puskesmas, petugas medis melakukan prosedur standar sebelum jasad diserahkan kepada pihak keluarga. Proses berlangsung tenang, tertib, dan disaksikan beberapa kerabat.
Keluarga kemudian meminta agar jasad segera dibawa pulang ke rumah duka di Desa Lereng.
Iring-Iringan Pulang
Ambulans bergerak perlahan menuju desa, diikuti beberapa kendaraan warga. Tidak ada suara sirene. Hanya suara mesin dan langkah pelan dari orang-orang yang ikut mengiringi.
Di desa, warga sudah berkumpul. Mereka mempersiapkan tempat untuk menyambut kedatangan jenazah. Malam itu, halaman rumah duka dipenuhi keluarga, tetangga, dan tokoh masyarakat. Doa dipanjatkan, dan persiapan pemakaman dilakukan sesuai adat setempat.
Sungai yang Kembali Tenang
Keesokan harinya, Sungai Kampar kembali mengalir seperti biasa. Tidak ada tanda apa pun yang menunjukkan tragedi sehari sebelumnya. Tetapi bagi warga Lereng dan Kuok, kejadian ini menambah daftar panjang anak-anak yang menjadi korban arus sungai.
BPBD Kampar kemudian mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama pada musim hujan atau ketika debit air sungai meningkat.
Penutup
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa Sungai Kampar, seindah apa pun pemandangannya, menyimpan bahaya yang tidak boleh diabaikan. Pencarian selama 30 jam itu menunjukkan betapa kuatnya kebersamaan warga dan tim penyelamat dalam menghadapi situasi darurat.
Namun pada akhirnya, sungai tetap mengambil apa yang telah hilang darinya, dan masyarakat hanya bisa menerima dan memberikan penghormatan terakhir.
Komentar Anda :