Di Tengah Wacana Penyesuaian Prodi, Akademisi Sejarah UNRI Pertegas Pentingnya Ilmu Sejarah
Kamis, 30-04-2026 - 17:48:18 WIB
 |
| Foto: Piki S. Pernantah, Dosen Sejarah Universitas Riau |
Pekanbaru – Wacana penyesuaian program studi di berbagai perguruan tinggi agar lebih berorientasi pada kebutuhan industri menuai respons dari kalangan akademisi. Salah satunya datang dari Piki S. Pernantah, Dosen Sejarah Universitas Riau, yang menegaskan bahwa ilmu sejarah memiliki posisi fundamental dalam kerangka filosofis Pendidikan Nasional.
“Peristiwa historis adalah memori kolektif yang mesti diingat dan diwariskan sehingga memberi makna pada masa lalu, membentuk identitas dan nilai, serta mengubah cara pandang masyarakat terhadap dirinya dan daerahnya,” ujarnya.
Menurutnya, kecenderungan menggeser disiplin ilmu sejarah demi menyesuaikan diri pada tuntutan industri perlu dikritisi secara mendalam. Ia mengingatkan bahwa meminggirkan sejarah sama artinya dengan memudarkan identitas bangsa.
“Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa para pejuang. Apakah sejarah ini harus dihilangkan untuk generasi mendatang? Kehilangan sejarah artinya kehilangan tuntunan arah bangsa di masa depan,” tegas Piki.
Sejalan dengan Tujuan Pendidikan Nasional
Piki menekankan bahwa esensi pendidikan nasional adalah membentuk manusia Indonesia yang berakhlak mulia, beriman, berkarakter, dan cerdas, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.
Karena itu, menurutnya, orientasi pendidikan perlu diperbarui agar responsif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan fungsi utamanya: membentuk karakter dan kesadaran kebangsaan.
“Seimbangan antara pembentukan karakter dan kompetensi profesional harus menjadi kunci. Pendidikan tidak boleh terjebak menjadi sekadar pabrik tenaga kerja,” jelasnya.
Sejarah sebagai Ruang Pembentukan Kesadaran Historis
Lebih lanjut, Piki menilai bahwa pembelajaran sejarah memiliki tujuan esensial, yakni membangkitkan kesadaran historis. Sejarah bukan hanya pengetahuan tentang masa lalu, tetapi medium refleksi bagi masyarakat untuk memahami jati diri, asal-usul, dan arah perjalanan bangsanya.
“Bukankah seharusnya demikian?” ujarnya mempertanyakan kembali arah kebijakan pendidikan yang cenderung pragmatis.
Meminggirkan Sejarah = Mereduksi Tujuan Pendidikan
Piki menegaskan bahwa mengesampingkan program studi sejarah berarti mereduksi tujuan utama pendidikan itu sendiri: dari pembentukan manusia seutuhnya menjadi sekadar proses memproduksi sumber daya untuk kepentingan industri.
“Bangsa yang kehilangan sejarahnya bukan hanya kehilangan memori kolektif, tetapi juga kehilangan arah, makna, dan kebijaksanaan dalam menapaki masa depan,” tutupnya.
Komentar Anda :